Home Tentang Kita Artikel Hot News Link
Rabu, 15 Agustus 2018  
 Sumber informasi Aktifis Pemuda Kristen
 
print
lihat komentar
kirim komentar
kirim ke teman
 
When I Survey The Wondrous Cross


May I never boast except in the cross of our Lord Jesus Christ
(Galatians 6:14)

Kata-kata : Isaac Watts, Hymns and Spiritual Songs, 1707. 

Musik  “Hamburg,” Lowell Mason, 1824; pertama kali di The Boston Handel dan  Haydn Society Collection of Church Music,
Edisi Ketiga 1825 

Nada alternatif:
“Eucharist,” Isaac B. Woodbury (1819-1858) (MIDI
“Rockingham (Miller),” oleh Edward Miller, 1790 (MIDI)

When I survey the wondrous cross
On which the Prince of glory died,
My richest gain I count but loss,
And pour contempt on all my pride.

Forbid it, Lord, that I should boast,
Save in the death of Christ my God!
All the vain things that charm me most,
I sacrifice them to His blood.

See from His head, His hands, His feet,
Sorrow and love flow mingled down!
Did e’er such love and sorrow meet,
Or thorns compose so rich a crown?

His dying crimson, like a robe,
Spreads o’er His body on the tree;
Then I am dead to all the globe,
And all the globe is dead to me.

Were the whole realm of nature mine,
That were a present far too small;
Love so amazing, so divine,
Demands my soul, my life, my all.

[Ditambahkan oleh pengarang Hymns Ancient and Modern]

To Christ, Who won for sinners grace
By bitter grief and anguish sore,
Be praise from all the ransomed race
Forever and forevermore.

Mungkin tidak ada gedung gereja di seluruh dunia yang lebih terkenal daripada Westminster Abbey di London, ibukota Inggris. Di samping menjadi tempat penobatan para raja dan ratu Inggris, gereja ini pun mejadi tempat penguburan dan peringatan bagi orang-orang besar sepanjang masa.
Salah satu pokok ruang dalam dari gereja yang luas ini terkenal sebagai “Pojok Penyair.” Banyak penyair ternama yang dikuburkan di bawah lantai pojok tersebut. Yang lain-lainnya dihormati dengan patung dan tulisan pada batu dan perunggu.

Mungkin kita berharap akan menemukan ukiran nama dari beberapa pengarang nyanyian pujian di Pojok Penyair dalam Westminster Abbey itu. Padahal tidak begitu. Sedikit sekali penyair ternama yang pernah mengarang nyanyian rohani.
Apa sebabnya?

Sebagian dari mereka bukanlah orang yang saleh, bahkan ada yang menolak kepercayaan Kristen sama sekali. Sebagian menganggap rendah syair-syair untuk dinyanyikan oleh sidang jemaat, dan mencurahkan perhatian mereka pada syair-syair jenis lain. Sebagian lain lagi memang berusaha menciptakan nyanyian rohani, tetapi hasil karya mereka kurang disukai pada umumnya.
Namun di Pojok Penyair dalam Wesminster Abbey ini ada juga sebuah patung kecil sebagai peringatan kepada Isaac Watts (1674-1748), 'Bapak Nyanyian Rohani Inggris.' Seandainya Isaac Watts (sama seperti kebanyakan penyair besar), belum pernah mengarang lagu rohani, dia masih akan tetap diingat sampai sekarang sebagai salah seorang sastrawan Inggris yang ternama.

Isaac Watts memang dikarunia talenta membuat puisi yang indah sejak masa kecilnya. Pada usia 7 tahun, dia sudah berhasil memenangkan hadiah berupa sedikit uang dalam suatu sayembara puisi kecil. Sering dalam percakapan sehari-hari dia mencetuskan baris-baris puisi. Suatu hari setelah selesai dari sebuah kebaktian, Isaac Watts terus- menerus mengomel karena kejelekan lagu-lagu pujian yang dinyanyikan di dalam kebaktian tersebut. Ayahnya yang jengkel dan hendak membungkamkannya lalu memberikan sanggahan tajam, “Kalau begitu, hai anakku, mengapa kamu tidak memberikan umat Allah sesuatu yang lebih bagus?” 

Isaac Watts menjawab tantangan ini dengan baik, dan langsung menuliskan kata-kata sebagai berikut: 

Behold the glories of the Lamb; 
Amidst His Father’s throne;
Prepare new honours, for His Name;
And songs before unknown!

Yang terjemahan bebasnya kira-kira berbunyi demikian:
Lihatlah kemuliaan Sang Anak Domba;
Di tahta Bapa-Nya;
Persiapkan kemuliaan baru, bagi Nama-Nya;
Nyanyian baru yang belum pernah didengar sebelumnya!

Setelah membacakan pujian ini, sang ayah langsung memeluknya dan meminta maaf kepadanya, kemudia meminta kertas yang berisi sajak pujian ini. Pujian tersebut kemudian dinyanyikan di antara jemaat pada hari minggu selanjutnya. Karena disukai jemaat, Isaac Watts diminta untuk menuliskan syair pujian sepanjang kurang lebih 222 hari minggu berikutnya. 

Kegeniusan Isaac Watts dalam berpuisi terletak pada kemampuannya untuk memilah antara puisi biasa dan syair yang dibawakan sebagai lagu pujian. Dia insyaf bahwa syair pujian yang dibuatnya harus mengandung arti rohani yang tepat. Maka dia sengaja mengendalikan bakatnya pada saat mengarang nyanyian pujian, dengan tidak mempergunakan berbagai macam sistem sajak, permainan kata, atau kiasan yang rumit.

Lagu pujian “When I Survey The Wondrous Cross,” yang oleh seorang ahli sastra disebut sebagai nyanyian pujian terbesar dalam bahasa Inggris, mengandung isi yang sangat sederhana. Dalam bahasa aslinya, syair itu terdiri atas 139 kata, dan 120 di antaranya masing-masing hanya satu suku kata saja. Isaac Watts menghendaki pujian ini dinyanyikan saat Perjamuan Kudus. Tidak ada catatan mengenai saat penulisannya, tetapi terbitan yang pertama adalah pada tahun 1707.

Syair pujian ini didasarkan pada Galatia 6:14: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Dengan sikap yang dicerminkan dalam ayat itu, Isaac Watts mengarahkan dan mengendalikan bakat puisinya, sehingga terciptalah sebuah lagu pujian yang indah. Lagu tersebut kini dinyanyikan oleh umat Kristen di seluruh dunia, pada saat mereka memperingati penyaliban Tuhan Yesus.

Melodi untuk lagu pujian ini sebenarnya cukup banyak, salah satu yang terkenal dikarang oleh Edward Miller (1735-1807). Dia sadar bahwa lagu-lagu pujian yang dibawakan oleh orang-orang aliran Methodist, waktu itu, lebih bersemangat daripada lagu rohani di gereja negara. Maka dia mulai menyusun, mengarang, dan menerbitkan lagu-lagu baru. Hasilnya begitu mengagumkan, hingga Raja George III sendiri mengaruniakan sejumlah uang kepadanya. Tetapi disamping karangan Edward Miller, ada juga sebuah melodi lain yang paling popular sebagai sarana penyampaian syair pujian ini, yaitu melodi yang dikarang oleh Lowell Mason.

Lowell Mason dilahirkan di Negara bagian Massachusetts, Amerika Seikat, pada tahun 1792. Sebagai anak muda dia bekerja dan belajar dengan giat. Keinginannya yang terbesar adalah mendapat les musik. Tetapi kesempatannya agak terbatas, keluarga Lowell Mason bukanlah keluarga miskin, tetapi juga bukan keluarga orang kaya. Dengan uang sakunya Lowell sering membeli alat-alat musik sederhana beserta buku-buku petunjuknya. Bisa dikatakan dia belajar sendiri semua alat musik itu tanpa guru. Suatu hari Lowell diharapkan memimpin latihan semacam band. Dia agak malu, karena ternyata sebagian anak-anak tersebut membawa peralatan yang belum pernah dimainkannya, karena itu dia minta agar dapat dipinjamkan untuk menyetel peralatan tersebut hingga minggu depan. Ketika dikembalikan, bukan saja sudah disetel, dia pun sudah dapat memainkan peralatan-peralatan tersebut!

Beliau akhirnya dikenal sebagai seorang seorang perintis pengajaran musik di sekolah-sekolah. Dia menerbitkan banyak sekali buku nyanyian rohani, yang dikumpulkannya dari perjalanannya ke Eropa, maupun yang dikarangnya sendiri, dalam rupa buku nyanyian rohani. Dia jugalah yang pertama kali menerbitkan buku lagu anak-anak di Amerika. Begitu banyaknya lagu yang dikumpulkan dan dibukukan olehnya, hingga sulit sekali membedakan mana lagu asli ciptaannya dan mana lagu yang diambil dari sumber berbeda. 
Melodi untuk lagu ini pun tidak diketahui jelas berasal dari mana. Yang jelas adalah bahwa pada tahun 1824, ketika Lowell Mason masih seorang pegawai bank di Savannah, dia mengajarkan melodi itu kepada anggota koornya di gereja. Dr. Mason sendiri mengaku bahwa not-not yang agak datar ini berdasarkan sebuah lagu kuno yang dinyanyikan oleh para biarawan Gereja Katolik. Namun banyak ahli musik yang berpendapat bahwa hanya sedikit sekali persamaan antara lagu itu dengan musik Katolik dahulu kala. Hal terpenting adalah, Lowell Masonlah yang memperkenalkan lagu ini kepada umat Kristen pada masanya. Sekarang umat Kristen di seluruh dunia menyanyikan lagu ini dengan mempergunakan sarana melodi yang sederhana ini.



Buku Tamu
Beritahu Teman
 
PENGAJARAN
ROHANI UMUM
KESAKSIAN
MUSIK LAGU

Amazing Love, How Can It Be

Christ The Lord Is Risen Today

When I Survey The Wondrous Cross

Go Tell It On The Mountain

Angels, From The Realms Of Glory

Isaac Watts

Frances (fanny) Jane Crosby

All Hail The Power Of Jesus’ Name

The Old Rugged Cross

Christianity And Music

Amazing Grace

Great Is Thy Faithfulness

Onward, Christian Soldiers

I Am Thine, O Lord (Draw Me Nearer)

Abide With Me

Hymn Trivia

Away In A Manger

What Child Is This

O Come, O Come, Emmanuel

It Came Upon The Midnight Clear

O Holy Night

A Mighty Fortress Is Our God

Near To The Heart Of God

SHARING BUKU
PI
SEKOLAH MINGGU
PERSEKUTUAN
 
NEWSLETTER

Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda:

 
SEARCH

 Copyright © 2006 pemudakristen.com. All Rights Reserved. Development by Proweb Indonesia