Home Tentang Kita Artikel Hot News Link
Minggu, 22 April 2018  
 Sumber informasi Aktifis Pemuda Kristen
 
print
lihat komentar
kirim komentar
kirim ke teman
 
Sharing Gospel With Biblical Imagery


Keyakinan Kita Sebagai Orang Percaya
Kita percaya bahwa hanya ada satu Allah yang benar, satu-satunya Allah yang benar. Konsep ini diakui oleh hampir semua agama. dalam bukunya, Mirziah Eliade, seorang profesor dari University of Chicago, membahas bahwa manusia adalah mahluk yang beragama. Menurutnya, ada konsep-konsep yang sama dalam agama, yaitu:
1. Ada dunia yang teratur (kosmos)
Dunia yang teratur dibagi 3:
* Tahap di atas
* Tahap di tengah, yaitu: manusia. Manusia telah jatuh, tetapi ada jalan untuk bertemu dengan Yang Kudus. Perjumpaan dengan Yang Kudus mengubah hidup manusia untuk kembali ke atas.
* Tahap di bawah
2. Ada Allah yang tertinggi
3. Kematian bukan akhir segala sesuatu, tetapi merupakan awal kehidupan di dunia sana.

Asumsi-asumsi dasar kita:
1. Ada Allah yang tertinggi, yang menentukan jalan keselamatan, bukan manusia berdosa yang lemah yang menentukan jalan keselamatan.
2. Jalan keselamatan itu Tuhan wahyukan kepada kita. Dalam hal ini kita akan terbentur dengan agama yang bukan berdasarkan wahyu Allah.
3. Kitab Suci memberitahukan mengenai jalan keselamatan itu.
4. Allah yang kita percaya adalah Allah yang benar, maka kita akan mengalami benturan dengan agama lain yang juga percaya bahwa Allah yang mereka percayai adalah Allah yang benar. Di tengah begitu banyak agama, kita yakin ada kebenaran yang universal, yang objektif. 

Roma 1:16-17
Kita harus seperti Paulus yang tidak malu dan yakin sekali bahwa Injil mempunyai kekuatan Allah yang mampu menerobos lintas budaya, lintas agama, menjamah dan mengubah orang yang mendengarkan kebenaran ini. Hal ini telah nyata jelas dalam kehidupan Paulus dan kehidupan banyak orang. Paulus dipanggil untuk memberitakan Injil kepada non-Yahudi, sehingga ia menjangkau agama lain dan telah nyata bahwa Injil mampu menerobos. 

Dalam penginjilan, jangan mau menang sendiri. Jangan menjelek-jelekkan agama lain, membuat orang kalah. Kalau ini dilakukan, maka orang itu tidak akan mau percaya, karena percaya berarti 'kalah'. Kita semata-mata bergantung pada kuasa Roh Kudus, sekalipun kita pandai berapologetika, belum tentu orang itu mau percaya. Tetapi kita dituntut juga untuk mampu dengan lemah-lembut memberi pertanggungjawaban tentang iman kita.

Roh Kudus mampu bekerja dan mengubah orang, walaupun orang itu diinjili dengan cara yang sederhana. Walaupun demikian, kita dipanggil untuk mempertanggungjawabkan iman kita tatkala orang menanyakan tentang iman Kristen. 

Pada tahun 1920, ada aliran Wina Circle, yang menolak adanya Allah, karena kata Allah tidak dapat dihubungkan dengan objeknya. Menurut Ludwig W., untuk hal-hal yang tidak kita ketahui lebih baik kita diam. Dia membahas teori gambar: semua kata ada konsep di belakangnya (rumah: ada konsep/gambaran rumah di belakang kata itu). Kebenaran yang tidak ada gambarannya, lebih baik diabaikan. 

Ketika kita menyebut 1 (satu) kata, konsep di belakang kata itu berbeda-beda antara orang Buddha, Islam, Hindu, Kristen. Kata dosa, sorga, neraka, merupakan konsep yang berbeda-beda antara berbagai agama.

Menjelaskan Allah Tritunggal kepada orang yang belum percaya:
1. Allah adalah Allah yang kekal, ada sebelum segala sesuatu ada, Ia melampaui waktu.
2. Allah tidak berubah, karena tidak di dalam waktu. Kita dapat berubah, karena kita ada di dalam waktu.
3. Allah adalah Allah yang mengasihi dan kasih itu membutuhkan obyek kasih. Sebelum penciptaan, siapakah yang Allah kasihi? Harus sesuatu obyek di luar diri. Jika Allah itu tidak Tritunggal, pertanyaan ini tidak terjawab. Allah Bapa mengasihi Allah Anak, mengasihi Allah Roh Kudus.

Konsep agama Kristen:
1. Dosa
Alkitab menjelaskan dosa sebagai:
* Menyimpang dari jalan yang benar.
* Tidak mencapai sasaran atau target tertentu.
* Ketidakmauan untuk tunduk pada otoritas yang seharusnya, yaitu Allah/melawan Allah.

Agama-agama lain tidak mau mengaitkan dosa Adam dengan kita saat ini, tidak menerima konsep dosa asal. Kita percaya ada dosa asal: dosa yang diperbuat Adam menimpa kita. Roma 5:12-13 : Sebab itu sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang... Ketika Adam berdosa, maka semua keturunannya menjadi berdosa.

"Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah". Berbuat dosa dalam aurist tense. Pernahkah kita mengajar anak berbohong dan berbuat jahat? Bila tidak, tetap anak itu akan bisa berbohong, walaupun kita tidak mengajar demikian. Menurut Agustinus, bahkan bayi pun sudah dapat berbuat dosa.

Manusia sering meniadakan konsep keilahian, tetapi pada jaman postmodern konsep keillahian muncul kembali. Ada orang yang memiliki pengalaman religius tertentu, tetapi tidak memiliki agama tertentu. Secara umum agama-agama di dunia mempunyai ajaran tertentu.

Konsep dasar yang akan kita sampaikan kepada manusia berdosa yang akan kita Injili adalah: Allah, manusia dan dosa, jalan yang Allah tentukan untuk pengampunan dan hukuman kekal.

1 Petrus 3:15, 2 Korintus 10:3-6
Setiap orang Kristen harus memberikan pertanggungjawaban tentang iman kita kepada orang-orang yang meminta pertanggungjawaban, maka kita harus terus belajar. Ketika kita memberitakan Injil, kita dituntut untuk terus belajar, terus hidup suci. Kita tidak selalu dapat menjawab, terkadang kita bingung bagaimana menjelaskannya, karena itu kita perlu berdoa, kita perlu hikmat dari Roh Kudus, kita perlu peka terhadap pimpinan Tuhan. Kita tidak mengandalkan apa yang telah kita pelajari, pengalaman kita, setiap situasi dan setiap orang yang kita hadapi berbeda-beda. Ini harus kita sadari dan ini mendorong kita untuk terus maju, untuk hidup suci. Penginjilan adalah peperangan rohani, kita harus mengandalkan Tuhan yang lebih berkuasa dari kuasa si jahat. Bila tidak hidup benar, masalah pribadi tidak dibereskan, maka waktu penginjilan kita akan mengalami kesulitan bahkan dipermalukan. Contohnya: ada hamba Tuhan yang melakukan perzinahan, waktu ia mengusir setan, maka si setan itu membongkar dosanya. 

Penginjilan menuntut kita hidup suci, supaya berdasarkan kuasa Tuhan kita dapat menyampaikan kebenaran itu. Kerajaan Tuhan bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. Kita, dengan hati yang penuh kasih, ingin orang itu benar-benar mengenal Tuhan. Hati yang penuh kasih itu dapat dirasakan oleh orang yang kita injili. Kita bukan ingin menyerang orang lain ketika kita menginjili. Harus nyata kasih yang sungguh, harus ada kelemahlembutan dan kesopanan ketika kita menginjili. Tetapi kita juga harus tahu pikiran-pikiran mereka. Manusia membangun benteng konsep dan pengertian mereka untuk menentang pengenalan Allah yang benar dan mereka pikir ajaran mereka adalah ajaran yang benar. 

Manusia diciptakan dalam kondisi dapat mengalami kematian dan dapat tidak berdosa, yaitu jika ia tidak makan buah yang dilarang Allah. Dapat tidak berdosa, karena diciptakan Allah dengan kondisi baik. Dapat berdosa, karena memiliki kebebasan. Setelah jatuh dalam dosa, manusia tidak bisa tidak berdosa. Tetapi setelah diselamatkan, manusia bisa tidak berdosa. Setelah disempurnakan, manusia tidak bisa berdosa.

Menjawab the problem of evil: Seharusnya semua manusia dihukum, karena itulah akibat dosa. Dosa menyebabkan manusia menderita, tetapi karena kemurahan Allah hanya sedikit orang yang sakit, lebih banyak yang sehat.


Kekristenan sering diserang dalam hal:

1. Tritunggal
Islam percaya monoteisme mutlak, sedangkan kita percaya Tritunggal. Menjelaskan Allah Tritunggal : jangan menggunakan analogi/perumpamaan, karena tiap analogi ada kelemahannya, tapi pakai prinsip kekoherenan, benar adalah benar. Selain koresponden adalah koheren, pegang prinsip ini dan beritakan Injil. Bila mereka percaya, otomatis mereka menerima Tritunggal. Hati-hati jangan sampai masuk ke Sabeliasnisme yang mengerti Allah Tritunggal dengan konsep ini: waktu di dunia menjadi Yesus, waktu naik ke sorga menjadi Allah Bapa, lalu turun lagi dari sorga menjadi Roh Kudus, atau seperti 1 (satu) orang dengan 3 (tiga) jabatan: di rumah sebagai ayah, di jalan sebagai supir, di kantor sebagai bos. Konsep ini salah, sebab waktu Yesus di dunia, di sorga tetap ada Bapa. Analogi ini tidak dapat dipakai, lebih baik pakai konsep kekonsistenan/kekoherenan.
Allah adalah Allah yang kekal. Allah adalah Allah yang tidak berubah, Allah yang kasih dan kasih itu membutuhkan objek kasih. Allah mengasihi siapa sebelum dunia diciptakan? Bila Allah hanya 1 (satu) pribadi, maka menjadi tidak konsisten dengan konsep Allah adalah kasih. 

2. Injil sudah dipalsukan, tidak asli. 
'Penolong' dalam Yohanes 14 menurut 'mereka' telah dipalsukan.
Jangan gunakan istilah 'Isa Almasih' dalam menginjili, ini biasa dilakukan dalam pendekatan kontekstualisasi, yaitu pendekatan PI dengan menggunakan bahasa mereka. Tapi, jangan lupa bahwa Yesus yang digambarkan dalam 'kitab mereka', bukan Yesus yang sejati.
Kita harus menggunakan konsep kita dengan kata-kata mereka, atau gunakan kata-kata kita sendiri dengan memberikan pengertian yang jelas kepada mereka, tetapi tidak dapat berdasarkan kekuatan diri sendiri, semata-mata berdasarkan pertolongan Tuhan.
Untuk orang yang tidak berpendidikan, saya sering memberikan gambaran: dasar yang sama dengan mereka, yaitu: Allah adalah Allah yang Maha Besar dan semua manusia sudah salah kepada Allah yang Maha Besar, karena itu bukan salah yang kecil. Kalau saya ketok orang biasa, lalu ketok presiden, lalu ketok anjing dengan cara yang sama, reaksi yang timbul akan berbeda-beda. Demikian juga kalau salah kepada pribadi Allah yang Maha Besar, maka itu bukan salah yang main-main, tapi salah besar. Kita juga salah kepada Allah yang kekal, sehingga tidak mungkin bisa lari dari-Nya, kalau begitu kita harus dihukum. Allah itu tidak mengenal siang dan malam, berarti kita akan dihukum selama-lamanya, bukan sementara. Kalau begitu bagaimana jalan keluar? 'Mas, rajin ibadah nggak? Kalau tidak ibadah, bagaimana?' Ibadah itu wajib, kalau sering lalai, berarti sering salah. Kalau sholat pun tidak pasti benar, karena manusia pasti ada cacat cela. Jadi, bagaimana kita dapat bayar hutang itu? Tidak mungkin bisa bayar. Kalau kita hutang 1 trilyun, bisa bayar tidak? Untuk hidup saja susah, apalagi bayar 1 trilyun! Tapi, kalau ada orang yang baik mau membayarkan, kita mau kan? Allah mau datang untuk ke dunia untuk membayar hutang dosa yang tidak sanggup kita bayar, kita mau terima tidak?

Dalam setiap jaman, orang dapat memakai berbagai gambaran yang berbeda-beda untuk menjadi jembatan dalam PI.

Yang penting, kita tahu yang kita percaya. Kalau kita tidak mengerti agama mereka, kita dapat bertanya kepada mereka dan mendengar dari mereka tentang agama mereka. Belajar agama lain membuat kita makin jelas dengan kepercayaan kita dan kita dapat melihat kelemahan/kekurangan ajaran mereka. Kita tidak akan kehilangan iman dengan mempelajari agama lain, asal kita tetap memegang Firman Tuhan dan kita harus memahami dengan baik doktrin-doktrin dasar kekristenan.

Kita percaya ada kebenaran yang mutlak. Unsur kebenaran objektif harus kita jelaskan, misalnya suatu kebenaran yang berasal dari Alkitab, kita harus jelaskan mengapa dapat diterima sebagai kebenaran. 

Kita tidak harus mengutip ayat Alkitab, tetapi kita dapat memberitakan dengan konsep yang jelas.



Buku Tamu
Beritahu Teman
 
PENGAJARAN
ROHANI UMUM
KESAKSIAN
MUSIK LAGU
SHARING BUKU
PI

Keselamatan Hanya Di Dalam Kristus

Penginjilan Pribadi, Apologet Justin Martir

Sharing Gospel With Biblical Imagery

Tak Terlupakan

I Will Make You Fishers Of Men

Seorang Setiap Hari

Setiap Orang Kristen Sebagi Saksi

Peserta Itu Mantan Pembunuh

Badut Sirkus

Kuasa & Kepenuhan Roh Kudus Dalam Penginjilan

SEKOLAH MINGGU
PERSEKUTUAN
 
NEWSLETTER

Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda:

 
SEARCH

 Copyright © 2006 pemudakristen.com. All Rights Reserved. Development by Proweb Indonesia