Home Tentang Kita Artikel Hot News Link
Minggu, 22 April 2018  
 Sumber informasi Aktifis Pemuda Kristen
 
print
lihat komentar
kirim komentar
kirim ke teman
 
Penginjilan Pribadi, Apologet Justin Martir

oleh: Pdt. Amin Tjung

Penginjilan 
Penginjilan merupakan keharusan bagi setiap murid Kristus. Penginjilan bisa dilakukan secara masal, seperti kebaktian Kebangunan Rohani. Tetapi juga bisa dilakukan melalui penginjilan pribadi dan kelompok. Semuanya ini bisa dilakukan dan saling melengkapi. Penginjilan juga bisa secara langsung bertemu dengan orang itu kemudian bercakap-cakap dan memberitakan Injil kepadanya. Penginjilan juga bisa secara tidak langsung, lewat radio, televisi, kaset-kaset khotbah, traktat dan lain sebagainya. Di dalam tulisan ini lebih kepada contoh penginjilan pribadi melalui percakapan langsung.

Apologet Justin Martir
Para apologet mula-mula hidup dengan para bapak gereja rasuli, tetapi mereka sulit disebut sebagai theolog secara teknis. Mereka tetap menulis di dalam usaha untuk meyakinkan kekristenan. Selain itu, karena kekristenan berada dalam masa aniaya dan tertekan, maka mereka juga menulis tentang hak untuk toleransi memberikan reaksi kepada: pemerintah, filsuf, rakyat umum dan orang Yahudi. Mereka berusaha menggunakan segala argumentasi yang mungkin dan secara natural mencoba membandingkan ajaran Kristen dengan pikiran dan praktik yang terbaik pada zaman itu. Di dalam menjelaskan ajaran Kristen mereka membahas mengenai tema doktrin. Di dalam pandangan tentang hubungan filsafat mereka tertarik pada implikasi intelektual dari Injil. 

Kita melihat para apologet ini memberikan pengaruh yang mendalam dalam theologi. Mereka memberikan suatu contoh tentang bagaimana ketertarikan kepada apologetika mempengaruhi theologi. Justin martir dipandang sebagai kepala apologet. Setelah bertobat ia tetap meneruskan karir filsafatnya dan sebagai seorang Kristen, baik melalui pengajaran lisan maupun tulisan. Tulisannya ada 3, yaitu: 2 dalam tulisan apologetika: 1) kepada pemerintah Roma; 2) kepada Senat. Dia berani dalam pembelaannya dan membayar dengan darahnya sendiri. Ia memateraikan apogetiknya dengan darah, pada saat dia dibawa kepada Rustikus. Mengapa dia berani mati martir, karena dia sudah dipersiapkan sebelumnya dengan melihat orang-orang Kristen sebelumnya juga berani mati martir untuk membela kebenaran. Satu lagi tulisannya adalah “Dialog dengan Trypho”. 

Penginjilan Dengan Apologetika
Penginjilan yang dijalankan oleh Justin Martir terdapat dalam tulisannya “Dialog Dengan Trypho” yang berisikan 2 bagian yang utama: 

  1. Pasal I-VIII berisi tentang bagaimana pertobatannya. Dalam tulisan ini dia membawa pemikiran pembaca untuk melihat keutamaan Kristus lebih daripada segala filsafat. Dengan memberikan contoh dirinya sebagai seorang filsuf saat itu yang akhirnya bertobat melalui dialognya dengan seorang Kristen yang berumur.
  2. Pasal IX-CXLII berisi dialog Justin Martir dengan Trypho dan kawan-kawannya tentang hal-hal Perjanjian Lama dari sudut pandang Kristen dan Yudaisme.

Dalam tulisan ini, penulis lebih memfokuskan pada bagian pertama saja, yang merupakan kesaksian dari Justin Martir kepada Trypho tentang pertobatannya melalui percakapan dengan gaya apologetika. Tulisannya bagian pertama ini memang merupakan cerita pengalaman pertobatannya, tetapi di dalam cerita yang merupakan percakapan apologet tentang bagaimana ketika ia masih menjadi seorang filsuf pikirannya ditaklukkan kepada Kristus oleh seorang Kristen (2 Kor.10:5).

Jalan cerita dan percakapannya sebagai berikut: 
Pada pasal 1: Justin Martir menceritakan perjumpaannya dengan Trypho ketika sedang jalan pagi di Xystus, Efesus. Trypho menegur Justin Martir dan ingin mendapat sesuatu yang berfaedah dari dirinya. Trypho memperkenalkan dirinya sebagai seorang Yahudi yang disunat, dan melarikan diri dari perang yang dipicu oleh Bar Cochba, dan sekarang ia tinggal di Korintus, Yunani. 

     Justin Martyr bertanya kepada Trypho yang belajar filsafat, “Di dalam hal apa Anda diberikan manfaat oleh filsafat sebanyak pemberi hukum dan para nabimu?” 
     Jawab Trypho, “Mengapa tidak, bukankah para filsuf mengarahkan wacana percakapannya juga pada Allah? Bukankah pertanyaan tentang kesatuan dan providensia-Nya terus ditanyakan? Bukankah tugas filsafat adalah menyelidiki keilahian?
     Jawab Justin, “Benar, kita percaya ini juga. Tetapi hampir semua tidak memikirkan ini, apakah ada satu atau banyak ‘allah’? Apakah mereka memperhatikan setiap kita atau tidak? Apakah pengetahuan ini berkontribusi untuk kebahagiaan kita? Meskipun mereka membahas Allah memperhatikan alam semesta secara umum dan khusus, tetapi bukan saya dan kamu dan setiap individu yang lain sehingga tidak perlu berdoa kepada-Nya. Sehingga orang juga tidak takut berbicara dan melakukan sembarangan, karena tidak ada peng-hukuman dan harapan dari Allah. Ada yang percaya segala sesuatu tetap sama, tidak ada perubahan, dan bahwa kita akan hidup kembali baik menjadi lebih baik atau buruk daripada manusia. Tetapi ada juga yang percaya bahwa jiwa itu immortal dan immaterial. Mereka percaya bahwa meskipun mereka berbuat dosa, mereka tidak akan menderita penghukuman (sebab immaterial dan insensible), karena jiwa itu immortalitas, maka tidak memerlukan apa-apa dari Allah. 
     Lanjut Trypho dengan senyum, “Tolong ceritakan pendapatmu mengenai hal ini. Apa gagasanmu mengenai Allah, dan apa filsafatmu?”

Di sini kita bisa melihat bagaimana Justin Martir menggunakan kesempatan juga membawa orang kepada kebenaran, yang telah dia alami dan telah menyelamatkannya. Pendekatan yang digunakan dengan percakapan filsafat adalah sesuai dengan Trypho yang memang mempelajari filsafat juga. Kita juga harus menggunakan setiap kesempatan untuk menyaksikan Injil Tuhan Yesus dengan membawa orang itu dengan latar belakang pemikirannya untuk ditaklukkan kepada Kristus. 

Kemudian pada pasal 2 ini Justin Martir menceritakan dan menyaksikan studi filsafatnya dan pertobatannya dalam suatu percakapan. 

     Sahut Justin, “Bagi saya, sesungguhnya filsafat adalah yang milik yang paling bernilai dan paling mulia di hadapan Allah, sebab filsafat ini memimpin kita dan satu-satunya yang menghargai kita; dan hanya orang-orang kudus sesungguhnya yang memperhatikan filsafat. Tetapi apa itu filsafat dan mengapa diberikan kepada manusia, telah hilang dari observasi mereka. Ketika saya belajar tentang Stoicisme, saya tidak mendapat kemajuan di dalam pengetahuan tentang Allah. Sampai saya mengikuti kelompok Platonis, saya mengalami kemajuan yang pesat. Persepsi mengenai hal yang immaterial itu begitu menguasa diriku, dan kontemplasi mengenai ide-ide itu memenuhi pikiranku dengan sayap, untuk sementara aku berpikir aku akan menjadi bijaksana, itulah kebodohan untuk mengharapkan melihat Allah, sebab ini akhir dari filsafat Plato.”

Pasal 3: Justinus Martir menceritakan pertobatannya
Justin Martir menjauhkan diri dari keramaian manusia untuk mencari ketenangan di suatu daerah tidak jauh dari pantai. Pada suatu hari ketika hampir sampai di situ, ada orang yang mengikutinya tidak jauh di belakangnya secara tidak sengaja. Cerita selanjutnya ini adalah kesaksian Justin Martir dalam percakapan dengan orang Kristen yang menjadikannya bertobat.

     Justin Martir berbalik dan menatapnya. 
     Orang yang ditatap itu bertanya, “Apakah engkau mengenal aku? 
     Justin Martir menjawab, “Tidak.” 
     Maka ia kembali bertanya, “Kalau begitu mengapa engkau menatap aku?” 
     Justin Martir menjawab, “Sebab saya heran melihat kamu ada kesempatan berada bersama-sama aku di tempat di mana aku tidak mengharapkan untuk melihat seorangpun.” 
     “Saya sedang mencari keluargaku, kalau engkau sendiri mengapa ada di sini?”
     “Saya suka berjalan di sini, dimana perhatianku tidak diganggu, untuk bercakap-cakap dengan diriku sendiri tidak terinterupsikan; dan tempat ini adalah tempat yang cocok untuk philologi (latihan berpikir).

     Ia bertanya, “Jika demikian, apakah Anda seorang philologian (seorang yang latihan berbicara/pidato; sebab logos itu bisa berarti oratio (word, kata, firman) bisa juga ratio (reason, ilmu), di mana Justinus Martir menggunakan dalam pengertian ratio, tetapi orang itu dalam pengertian oratio). Dimana kamu suka berbicara, tetapi tidak suka berbuat dan tidak suka kebenaran? Dan kamu tidak suka menjadi manusia praktis sebagaimana seorang sofis?”

     “Pekerjaan apakah yang lebih besar yang orang dapat kerjakan selain menunjukkan akal budi yang memerintah segala sesuatu, dan berpegang kepadanya, dan naik menuju padanya, memandang rendah pada kesalahan yang lain, dan pencariannya? Sebab tanpa filsafat dan akal budi yang benar, kebijaksanaan tidak akan tampil pada manusia. Sebab itu adalah perlu bagi setiap manusia untuk berfilsafat, dan untuk menghargai pekerjaan yang teragung dan paling mulia; sebab hal yang lain kepentingannya hanyalah kelas dua atau tiga, meskipun sesungguhnya, jika mereka dibuat untuk bergantung pada filsafat, mereka itu memiliki nilai cukupan, layak untuk diterima; tetapi dicabut dari filsafat dan tidak berhubungan dengan filsafat, mereka tidak sopan dan kasar bagi mereka yang mengejarnya.”

     Orang itu menyela, “Jadi, filsafat itu memberikan kebahagiaan?”
     “Yah, dan hanya filsafat saja,” jawab Justin Martir.
     Ia menjawab, “Jadi apa itu filsafat dan apa itu kebahagiaan? Tolong beritahu saya, kecuali sesuatu menghalangi kamu untuk memberitahukan.”
     Jawabku, “Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang sungguh-sungguh ada, dan persepsi yang jelas tentang kebenaran. Sedangkan kebahagiaan adalah upah dari pengetahuan dan hikmat semacam itu.”
     “Apa yang kamu maksud dengan Allah?”
     Jawabku, “Allah sesungguhnya adalah: sesuatu selalu memelihara natur yang sama dan sikap yang sama, dan adalah penyebab dari segala sesuatu.”
Ia memperhatikan jawabanku dengan senang, dan dengan demikian menginterogasi aku, “Bukankah pengetahuan adalah suatu istilah umum untuk membedakan hal-hal? Sebab di dalam seni dari segala sesuatu, ia yang mengetahui salah satu dari seni itu disebut orang yang ahli, demikian juga seni dalam hal-hal umum, pemerintahan dan kesehatan juga adalah sama. Tetapi di dalam urusan Allah dan manusia bukanlah demikian. Adakah pengetahuan yang menghasilkan pengertian akan hal-hal manusia dan ilahi, dan kemudian sebuah pengetahuan yang teliti tentang ketuhanan dan kebenaran tentangnya?”
     “Pasti,” jawabku.
     “Apa dengan cara yang sama kita mengenal manusia dan Allah, seperti kita mengenal musik, dan aritmatika, dan astronomi, atau segala cabang yang mirip?”
     “Sama sekali tidak,” jawabku.
     “Kamu tidak menjawabku dengan tepat, sebab beberapa cabang pengetahuan datang kepada kita melalui belajar, atau dari beberapa pekerjaan, sedangkan yang lain melalui melihat. Jika, seseorang memberitahukan kamu ada semacam binatang di India yang naturnya berbeda dengan binatang yang lain, Anda tidak akan tahu sebelum Anda melihatnya; dan Anda juga tidak kompeten untuk memberitahukan atau melaporkan tentang binatang itu, kecuali Anda sudah mendengar dari seorang yang telah melihatnya.”
     “Tentu, pasti,” sahutku.
     Ia berkata lagi, “Jika demikian, bagaimana bisa seorang filsuf memberikan penilaian dengan benar mengenai Allah, atau berbicara tentang kebenaran, jika mereka tidak memiliki pengetahuan tentang Dia, dan sama sekali tidak pernah melihat Dia dan tidak pernah mendengarkan Dia?”
     Jawabku, “Tetapi Pak, keilahian tidak dapat dilihat semata-mata dengan mata, seperti makhluk hidup lainnya, tetapi ini dilihat hanya melalui akal budi sebagaimana dikatakan Plato; dan saya percaya.”

Pasal 4: Jiwa pada dirinya sendiri tidak dapat melihat Allah 
     Katanya, “Apakah akal budi kita memiliki kekuatan sedemikian besar? Atau dapatkah manusia memahami tanpa pancaindera? Akankah akal budi manusia melihat Allah setiap waktu, jika tidak dibimbing oleh Roh Kudus?”
     Jawabku, “Sesungguhnya Plato berkata bahwa mata akal budi memiliki natur yang demikian, dan diberikan untuk maksud ini, bahwa kita akan melihat Yang Ada (very Being) itu sendiri ketika akal budi kita murni, yang adalah penyebab dari segala ketajaman pikiran, tanpa warna, tanpa bentuk, tanpa besaran – sesungguhnya ketiadaan yang dilihat oleh mata jasmani. Tetapi ada sesuatu yang melampaui segala esensi, tidak dapat diutarakan dan tidak dapat dijelaskan, tetapi yang satu-satunya mulia dan baik, datang tiba-tiba ke dalam jiwa yang berwatak baik, sebab ketertarikan dan keinginan untuk melihat Dia?”
     Ia bertanya lagi, “Ketertarikan apa yang ada di antara kita dengan Allah? Apakah jiwa itu juga ilahi dan immortal, dan satu bagian dari akalbudi yang sangat agung? Dan bahkan seperti dapat melihat Allah, sehingga seperti kita dapat mencapai kemampuan untuk memahami keallahan di dalam akal budi kita, dan kemudian kita menjadi bahagia?”
     “Tentu,” jawabku.
     Tanyanya lagi, “Apakah semua jiwa dari makhluk hidup dapat memahami-Nya? Atau apakah jiwa-jiwa dari semua manusia sejenis dan jiwa-jiwa dari kuda dan keledai itu jenisnya lain?”
     “Tidak, tetapi jiwa dari semuanya itu mirip,” jawabku.
     Ia berkata, “Jika demikian, dapatkah kuda dan keledai melihat atau apakah mereka telah melihat Allah pada suatu waktu tertentu?”
     Jawabku, “Tidak, sebab mayoritas manusia tidak akan melihat Allah, kecuali hidup adil, dimurnikan oleh kebenaran, dan oleh setiap kebajikan lainnya.”
     Tanyanya lagi, “Karena itu bukan, karena ketertarikan seseorang melihat Allah, dan bukan karena ia memiliki akal budi, tetapi karena ia berwatak dan benar? Yakub, karena ia telah memiliki watak dan benar, maka ia melihat Allah.” Katanya lagi, “Apakah kambing atau domba melukai seseorang?”
     “Tidak seorang pun,” sahutku.
     Tanyanya lagi, “Jikalau begitu apakah hewan-hewan ini akan melihat Allah menurut pendapatmu?”
     “Tidak, sebab keberadaan tubuhnya dengan natur semacam itu, yang merupakan penghalang bagi mereka.”
     Ia melanjutkan, “Jika hewan-hewan ini dapat berbicara, menjadi baik, meyakinkan bahwa mereka akan dengan akal budi yang lebih besar dari tubuh kita. Tetapi mari kita tinggalkan topik ini, dan menyerahkannya kepadamu seperti yang kau katakan. Tetapi, katakan kepadaku ini: apakah jiwa melihat Allah selama ada di dalam tubuh, atau setelah jiwa meninggalkan tubuh itu?”
     Jawabku, “Selama di dalam bentuk manusia, mungkin untuk melihat Allah, untuk mencapai ini melalui sarana akal budi; tetapi khususnya setelah bebas dari tubuh, dan berada terpisah oleh dirinya sendiri, jiwa mendapatkan milik dari apa yang menjadi kebiasaannya lebih lanjut dan lebih penuh mengasihi.”
     Tanyanya lebih lanjut, ”Apakah jiwa itu kemudian mengingat penglihatan akan Allah ini, ketika itu ada lagi di dalam manusia itu?”
     “Hal itu tidak muncul kepadaku demikian,” sahutku.
     “Jika demikian, apa yang menjadi manfaat bagi mereka yang telah melihat Allah? Atau kelebihan apa yang dimiliki dari yang telah melihat Allah dibandingkan mereka yang tidak melihat Allah, kecuali dia mengingat fakta ini, bahwa ia telah melihat Allah?”
     “Saya tidak tahu,” jawabku.
     “Dan apa yang diderita oleh orang yang dihakimi ternyata tidak layak dari penglihatan ini?” tanyanya.
     “Mereka akan dipenjara di dalam tubuh dari binatang liar tertentu, dan ini adalah hukuman mereka.” Jawabku.
     “Apakah mereka mengetahui bahwa bahwa karena alasan ini mereka ada dalam bentuk demikian, dan bahwa mereka telah berbuat beberapa dosa?” Tanyanya lagi.
     “Saya tidak berpikir demikian,” sahutku.
     “Jika demikian, apa yang mereka dapat ini dari penghukuman mereka ini tidak berguna, seperti yang terlihat?” Lebih lanjut ia berkata, “Mereka tidak dihukum, kecuali mereka sadar akan hukuman.”
     “Memang tidak,” sahutku.
     “Jadi, jiwa tidak pernah melihat Allah atau tidak berpindah ke dalam tubuh lain; sebab kalau jiwa melihat Allah dan berpindah, maka seharusnya mereka akan tahu bahwa mereka dihukum, dan mereka akan takut untuk berbuat dosa yang sepele selanjutnya. Tetapi mereka dapat mengetahui bahwa Allah itu ada, dan bahwa kebenaran dan kekudusan itu mulia. Saya juga sangat setuju dengan kamu,” katanya lagi.
     “Saudara benar,” sahutku.

Pasal 5: Jiwa tidak pada dirinya sendiri immortal
     OT (orangtua yang Kristen): Maka, para filsuf ini tidak mengetahui apa-apa tentang hal ini; karena mereka tidak dapat menceritakan apa jiwa itu.
     J (Justin Martir): Hal itu tidak tampil.
     OT: Atau itu juga tidak dapat disebut immortal; sebab jika jiwa itu immortal, jelaslah jiwa itu tidak dilahirkan.
     J: Jiwa itu tidak dilahirkan maupun immortal, menurut beberapa filsuf Platonis.
     OT: Apakah Anda berkata bahwa dunia ini juga tidak dilahirkan?
     J: Beberapa filsuf mengatakan, tetapi saya sendiri tidak setuju dengan mereka. 
     OT: Anda benar, sebab alasan apa yang dimiliki seseorang untuk beranggapan bahwa tubuh itu begitu solid, memiliki pertahanan, susunan, dapat berubah, rusak dan diperbaharui setiap hari tidak muncul dari suatu sebab? Tetapi jika dunia dilahirkan, maka jiwa-jiwa juga seharusnya dilahirkan; dan mungkin pada suatu saat tertentu akan tidak ada lagi, sebab mereka dijadikan untuk manusia dan makhluk hidup lainnya. Jika Anda berkata bahwa dunia itu telah dilahirkan seutuhnya terpisah, dan tidak bersamaan dengan tubuh mereka masing-masing.
     J: Ini tampaknya benar.
     OT: Maka jiwa itu tidak immortal?
     J: Tidak, sejak dunia telah tampak pada kita untuk dilahirkan.
     OT: Tetapi sesungguhnya, saya tidak berkata bahwa semua jiwa itu mati; karena itu sesungguhnya adalah suatu keberuntungan baik untuk kejahatan. Jadi apa? Jiwa-jiwa dari orang kudus akan tinggal pada tempat yang lebih baik, sementara jiwa-jiwa yang tidak adil dan fasik di tempat yang lebih buruk, menantikan waktu penghakiman terakhir itu. Dengan demikian ada jiwa-jiwa yang layak untuk Allah tidak pernah mati, tetapi jiwa-jiwa yang lain dihukum selama Allah berkehendak mereka ada dan dihukum.
     J: Apakah Anda berkata tentang semacam kodrat dengan yang Plato bayangkan tentang dunia dalam buku Timaeus, ketika ia berkata bahwa sesungguhnya dunia tunduk pada kehancuran, sebab sebagaimana dunia telah dicipta, tetapi bahwa dunia itu tidak akan dihancurkan atau tidak bertemu dengan nasib kematian sebab kehendak Allah? Apakah ini bagi Anda dapat dikata sama tentang jiwa, dan segala benda yang lain? Sebab benda-benda ini ada di samping Allah, atau akan ada terus, benda-benda ini memiliki natur membusuk, dan beberapa akan dihapuskan dan berhenti berada; sebab hanya Allah sendiri yang tidak dilahirkan dan tidak dapat rusak, sebab Ia-lah Allah, tetapi segala sesuatu yang bersamanya diciptakan dan dapat rusak. Sebab alasan ini maka jiwa dapat mati dan dihukum: sebab, jika jiwa-jiwa itu tidak dilahirkan, mereka tidak pernah berdosa, atau tidak pernah dipenuh dengan kebodohan, atau tidak pernah bersifat pengecut dan garang; tidak pernah akan mereka bersedia ditransformasi ke babi, ular, anjing; dan tidak akan perlu dihakimi untuk di hukum kalau mereka tidak dilahirkan. Sebab yang tidak dilahirkan itu seperti, sederajat, dan sama dengan yang tidak dilahirkan; tidak juga di dalam kuasa dan kemuliaan seharusnya yang satu disukai dari yang lain, karena itu tidak banyak hal yang tidak dilahirkan: sebab jika banyak perbedaan di antara mereka, kamu tidak akan menemukan penyebab perbedaan itu, meskipun kamu mencarinya. Tetapi setelah membiarkan akal budi mengembara ketakterbatasan, Anda akan sampai pada akhirnya, bosan, dan berdiri pada satu Yang Tidak Dilahirkan, dan berkata bahwa ini adalah Penyebab dari segala sesuatu. Apakah hal ini luput dari pengamatan Plato dan Pythagoras, para orang bijaksana itu yang adalah tembok dan benteng dari filsafat bagi kita?

Pasal 6: Hal-hal yang tidak diketahui oleh Plato dan para filsuf lainnya
     Sahutnya, “Tidak jadi masalah bagiku, baik itu Plato maupun Pythagoras, atau secara singkat semua manusia memegang pendapat itu. Sebab kebenaran adalah demikian; dan kamu akan memahaminya dari ini. Jelas jiwa itu ada atau memiliki hidup. Jika demikian kehidupan, akankah menyebabkan sesuatu yang lain, dan bukan dirinya, untuk hidup, bahkan seperti gerakan yang menggerakan sesuatu yang lain dari pada dirinya sendiri. Jelas, bahwa jiwa itu hidup, tidak seorangpun akan menyangkalnya. Tetapi jika ia hidup, ia hidup bukan sebagai keberadaan hidup, tetapi sebagai pengambil bagian kehidupan. Yang mengambil bagian dari sesuatu itu berbeda dari yang olehnya ia mengambil bagian. Sekarang jiwa mengambil bagian kehidupan, sebab Allah mengehendaki ia hidup. Dengan demikian ia tidak akan mengambil bagian kehidupan jika Allah tidak menghendaki ia hidup. Sebab hidup bukanlah atributnya, sebagaimana hidup adalah atribut Allah. Tetapi sebagai manusia tidak selalu hidup, dan jiwa tidak selamanya bersatu dengan tubuh, sebab kapan saja tatkala keharmonisan ini harus dihancurkan, jiwa akan meninggalkan tubuh, dan manusia tidak ada lagi, bahkan ketika jiwa harus berhenti ada, roh kehidupan akan diambil darinya, tidak ada lagi jiwa, tetapi akan kembali ke tempat dari mana ia diambil.

Pasal 7: Pengetahuan kebenaran harus dicari hanya pada nabi
     Aku berkata, “Maka dapatkah seseorang menjadi guru? Atau dari mana seseorang bisa ditolong, jika bahkan di dalam para filsuf itu tidak ada kebenaran?”
     Jawabnya, “Ada, jauh sebelum sekarang ini, orang-orang tertentu yang lebih kuno dari pada para filsuf yang diharapkan itu, yang benar dan dikasihi oleh Allah, yang berbicara oleh Roh Allah, dan menubuatkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, dan yang sekarang sedang terjadi. Mereka disebut nabi. Hanya mereka yang melihat dan memberitakan kebenaran kepada manusia, tanpa mengacu atau referensi dan takut kepada manusia, tanpa dipengaruhi oleh suatu keinginan untuk mulia, tetapi hanya mengatakan kebenaran itu saja yang mereka lihat dan mereka dengar, dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Tulisan-tulisan mereka masih ada, dan mereka yang telah membacanya sangat dibantu dalam pengetahuan mereka akan awal dan akhir dari segala sesuatu, yaitu: hal-hal yang seharusnya juga diketahui oleh para filsuf, disediakan bagi ia yang telah percaya kepadanya. Sebab mereka tidak mendemonstrasikan di dalam tulisan mereka, mengingat bahwa mereka adalah saksi-saksi kebenaran di atas semua demonstrasi, dan layak dipercaya; dan peristiwa-peristiwa itu telah terjadi, dan hal-hal yang sedang terjadi, mendorong Anda kalimat-kalimat yang telah dibuat oleh mereka, meskipun sesungguhnya mereka berhak penghargaan sebab mujizat-mujizat yang mereka telah tunjukan, sebab mereka memuliakan baik Allah Sang Pencipta dan Bapa dari segala sesuatu, memproklamasikan Anak-Nya, Kristus yang diutus oleh-Nya. Sesungguhnya nabi-nabi palsu, yang dipenuhi dengan roh kebohongan yang najis, tidak pernah telah melakukan atau saat ini melakukan, tetapi mengerjakan secara spekulasi pekerjaan tertentu yang mengherankan untuk kebanggaan manusia dan kemuliaan roh-roh dan setan-setan kesalahan. Yang terpenting dari semuanya ini adalah kiranya pintu cahaya penerangan boleh dibukakan bagimu, sebab hal-hal ini tidak dapat dipahami atau dimengerti oleh semua orang, tetapi hanya kepada orang yang kepadanya Allah dan Kristus telah menanamkan hikmat.

Pasal 8: Justinus Martir oleh percakapannya diterangi dengan kasih Kristus.
     Ketika ia telah berbicara ini dan banyak hal lainnya, yang tidak ada waktu untuk disebutkan semua di sini, ia pergi, dan mengundang saya untuk mengunjungi mereka. Sejak itu aku tidak berjumpa dengan mereka lagi. Saat itu juga seberkas cahaya menerangi jiwaku; dan kasih kepada para nabi, dan orang-orang yang adalah sahabat Kristus, menguasaiku; dan saat itu perkataannya berputar dalam akal budiku. Aku menemukan hanya filsafat ini saja yang menyelamatkan dan menguntungkan. Demikianlah dengan alasan ini, aku menjadi seorang filsuf. Lebih lagi, aku ingin mereka semua mengalami hal yang sama dengan yang aku alami, jangan menjauhkan mereka dari firman-firman Juruselamat. Sebab mereka akan menghadapi kuasa yang menakutkan di dalam diri mereka, dan cukup untuk menginspirasikan mereka yang dari jalan yang benar dengan kegentaran; sementara ada ketenangan yang sangat manis bagi mereka yang berusaha menjalankannya. Jika kalian memperhatikan diri kalian; dan jika kalian sungguh-sungguh mencari keselamatan; dan jika kamu percaya kepada Allah, kamu akan diperkenalkan kepada Kristus dari Allah, dan setelah itu akan ada suatu kehidupan yang penuh kebahagiaan.

Cerita percakapan ini merupakan salah satu cara penginjilan pribadi dan berbentuk apologetika. Kiranya dapat memberikan kita satu contoh untuk bentuk penginjilan pribadi. Amin 

Diambil dari Majalah Momentum 51 - Desember 2002, 
seijin redaksi.



Buku Tamu
Beritahu Teman
 
PENGAJARAN
ROHANI UMUM
KESAKSIAN
MUSIK LAGU
SHARING BUKU
PI

Keselamatan Hanya Di Dalam Kristus

Penginjilan Pribadi, Apologet Justin Martir

Sharing Gospel With Biblical Imagery

Tak Terlupakan

I Will Make You Fishers Of Men

Seorang Setiap Hari

Setiap Orang Kristen Sebagi Saksi

Peserta Itu Mantan Pembunuh

Badut Sirkus

Kuasa & Kepenuhan Roh Kudus Dalam Penginjilan

SEKOLAH MINGGU
PERSEKUTUAN
 
NEWSLETTER

Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda:

 
SEARCH

 Copyright © 2006 pemudakristen.com. All Rights Reserved. Development by Proweb Indonesia