Home Tentang Kita Artikel Hot News Link
Jumat, 15 Desember 2017  
 Sumber informasi Aktifis Pemuda Kristen
 
print
lihat komentar
kirim komentar
kirim ke teman
 
Menguji Bukti Saksi Mata Injil

Apakah Biografi-biografi Yesus dapat Bertahan
Menghadapi Penelitian yang Seksama?



Pengantar

Apakah para penulis Injil ini tertarik untuk mencatat apa yang sebenarnya terjadi?

Bagaimana kita dapat yakin bahwa material mengenai kehidupan dan ajaran-ajaran Yesus telah dipelihara dengan baik selama 30 tahun sebelum akhirnya dituliskan dalam keempat Injil?

Adakah suatu bukti ketidakjujuran atau imoralitas yang mungkin menodai kemampuan atau kemauan mereka untuk menyampaikan sejarah secara akurat?

Bukankah terdapat ketidaksesuaian yang tidak dapat dirujukkan antara Injil-injil?

Penulis-penulis Injil adalah orang-orang yang mengasihi Yesus. Mereka bukan pengamat-pengamat netral. Mereka adalah pengikut-pengikut-Nya yang penuh pengabdian. Tidakkah itu menimbulkan kemungkinan bahwa mereka akan mengubah hal-hal untuk membuat-Nya tampak baik?

Apakah para penulis Injil memasukkan material yang mungkin memalukan - yang membuat mereka merasa tidak nyaman - yang mungkin sukar dijelaskan, atau  mereka menyembunyikannya untuk membuat diri mereka sendiri kelihatan baik?

Ketika Injil-injil menyebutkan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa, apakah mereka memeriksa kebenarannya dalam kasus-kasus, dimana mereka dapat diverifikasi secara independen?

Adakah orang-orang lain yang akan menentang atau mengoreksi Injil-injil, jika ke empatnya telah diubah atau salah?

Untuk menjawab hal-hal tersebut, kita melakukan 8 tes di bawah ini:

1. Tes Maksud

 
Apakah para penulis Injil ini tertarik untuk mencatat apa yang sebenarnya terjadi?

Ya, mereka tertarik. Anda dapat melihatnya pada permulaan Injil Lukas:

Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,
 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,  supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.
(Lukas 1: 1-4)

Lukas dengan jelas mengatakan bahwa ia bermaksud untuk menuliskan secara akurat hal-hal yang ia investigasi dan yang didukung dengan baik oleh para saksi mata.

Bagaimana dengan Injil-injil lainnya? Mereka tidak diawali oleh pernyataan-pernyataan yang serupa. Apakah itu berarti mereka tidak memiliki maksud-maksud yang sama?

Benar bahwa Markus dan Matius tidak memiliki pernyataan eksplisit semacam ini. Bagaimanapun juga, gaya bahasa mereka mirip dengan Lukas, dan kelihatannya masuk akal bila maksud historis Lukas mencerminkan maksud historis mereka.

Dan Yohanes?

Satu-satunya pernyataan lain mengenai Injil dicatat terdapat dalam Yohanes 20:31, 'Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya'.

Itu kedengaran lebih seperti suatu pernyataan teologis daripada suatu pernyataan historis.

Teologi harus mengalir dari sejarah yang akurat. Pertimbangkan juga bagaimana keempat Injil ditulis, ditulis dalam suatu gaya yang tenang dan bertanggung jawab, dengan detil-detil sepele yang akurat, dengan ketelitian yang tepat dan jelas. Anda tidak akan menemukan bumbu-bumbu tulisan yang aneh dan pemitologian yang mencolok yang anda lihat dalam banyak tulisan-tulisan kuno lainnya. Jadi cukup nyata bahwa sasaran para penulis Injil adalah berusaha mencatat apa yang benar-benar terjadi.

2. Tes Kemampuan

Bagaimana kita dapat yakin bahwa material mengenai kehidupan dan ajaran-ajaran Yesus telah dipelihara dengan baik selama 30 tahun sebelum akhirnya dituliskan dalam keempat Injil? Tidakkan memori-memori yang cacat, impian khayalan, dan berkembangnya legenda akan mencemari penulisan Injil-injil?

Kita harus mengingat bahwa kita membicarakan suatu negeri lain pada suatu waktu dan tempat yang jauh dan dalam suatu kebudayaan yang belum menemukan komputer atau bahkan mesin cetak. Buku-buku (gulungan-gulungan papirus) relatif jarang. Dengan demikian pendidikan, pembelajaran, penyembahan, pengajaran dalam komunitas-komunitas religius, semua dilakukan dengan mengucapkan kata-kata melalui mulut.

Para rabi menjadi terkenal karena menghafal seluruh Perjanjian Lama di luar kepala.  Jadi sangat mungkin bahwa murid-murid Yesus mampu menghafal di luar kepala lebih banyak daripada apa yang tercatat dalam keempat Injil dan kemudian meneruskannya secara akurat.


Bermain Telepon-teleponan

Mungkin Anda telah melakukan permainan-permainan telepon-teleponan: seorang anak membisikkan, "Kamu adalah sahabat terbaikku", dan ini dibisikkan ke anak-anak lain dalam suatu lingkaran besar sampai pada akhirnya itu menjadi sangat berubah misalnya menjadi, "Kamu adalah sahabat terburukku". Bukankah ini merupakan suatu analogi yang bagus bagi apa yang mungkin terjadi pada tradisi oral tentang Yesus?

Tidak, tidak juga. Dalam permainan tersebut, separuh keasyikannya adalah bahwa orang itu mungkin tidak menerima secara benar, dan mereka tidak boleh meminta orang pertama untuk mengulanginya. Kemudian Anda segera meneruskannya, juga dalam nada berbisik yang mungkin membuat orang berikutnya semakin keliru mendengarnya. Jadi ya, pada saat kalimat itu diedarkan dalam sebuah ruangan berisi 30 orang, hasilnya akan sangat meriah.

Itu bukan suatu analogi yang bagus bagi penerusan tradisi oral kuno. Jika Anda benar-benar ingin mengembangkan analogi tersebut  bagi penerusan tradisi oral kuno, Anda harus mengatakan bahwa setiap orang yang ikut menyampaikan pesan, harus secara keras-keras dengan suara yang sangat jelas bertanya kepada orang pertama, 'Apakah saya masih mengatakannya dengan benar?' dan mengubahnya jika salah.
Komunitas tersebut akan secara konstan memonitor apa yang telah dikatakan dan campur tangan untuk memberikan koreksi-koreksi. Itu akan memelihara integritas pesan tersebut. Dan hasilnya akan sangat berbeda dari hasil suatu permainan telepon-teleponan yang kekanak-kanakan.

3. Tes Karakter

Adakah suatu bukti ketidakjujuran atau imoralitas yang mungkin menodai kemampuan atau kemauan mereka untuk menyampaikan sejarah secara akurat?

Sama sekali tidak ada bukti mengenai hal-hal tersebut. Mereka adalah orang-orang dengan integritas besar. Mereka melaporkan kata-kata dan tindakan Yesus yang memanggil mereka ke suatu tingkat integritas yang sangat sukar yang dikenal dalam agama manapun. Mereka bersedia hidup menurut kepercayaan-kepercayaan mereka, bahkan sampai titik ketika sepuluh dari sebelas murid yang masih tinggal  dibunuh secara  mengerikan, yang menunjukkan karakter yang sangat kuat.

Dalam hal kelurusan hati, kejujuran, kebajikan dan moralitas, orang-orang ini memiliki suatu catatan prestasi yang harus membuat kita iri.

4. Tes Konsistensi

Berikut ini adalah sebuah tes untuk menguji kelemahan Injil-injil yang sering dituduhkan para skeptik.
Bagaimanapun juga, bukankah mereka benar-benar saling berkontradiksi satu dengan yang lainnya? Bukankah terdapat ketidaksesuaian yang tidak dapat dirujukkan antara Injil-injil? Dan jika memang ada, bagaimana seseorang dapat mempercayai apa yang mereka katakan?

Dalam studi-studi kebudayaan dengan tradisi oral, ada suatu kebebasan untuk memvariasikan sekian banyak dari kisah yang diceritakan pada saat-saat tertentu. Bagaimanapun juga, selalu tetap ada pokok-pokok yang tetap dan tidak dapat diubah, dan komunitas tersebut memiliki hak untuk campur tangan dan mengkoreksi Si Pencerita jika ia melakukan kekeliruan dalam aspek-aspek penting kisah tersebut.

Banyak kemiripan dan perbedaan di antara Injil-injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) dapat dijelaskan dengan mengasumsikan bahwa para murid dan orang-orang Kristen mula-mula lainnya telah menghafalkan di luar kepala dari apa yang Yesus katakan dan lakukan, namun mereka bebas untuk menyampaikan informasi ini dalam bentuk-bentuk yang bervariasi, dengan tetap selalu memelihara apa yang penting dari ajaran-ajaran dan perbuatan Yesus.

Yang menarik bahwa variasi di antara Injil-injil sinoptik dalam bagian manapun berkisar antara 10 sampai dengan 40 persen. Keempat Injil dalam Alkitab amat sangat konsisten lainnya menurut standar-standar kuno, yang merupakan satu-satunya standar dengan apa mereka dapat menilai secara adil.

Ironisnya, bila keempat Injil identik antara satu dengan lainnya, kata demi kata, ini akan membangkitkan tuduhan bahwa para penulisnya telah sama-sama bersekongkol untuk menyelaraskan kisah-kisah mereka terlebih dahulu, dan akan menimbulkan keraguan terhadap mereka.

Terdapat cukup variasi antara keempat Injil menunjukkan bahwa tidak mungkin terjadi suatu persesuaian bersama terlebih dahulu di antara mereka. Pada saat yang sama menunjukkan bahwa mereka adalah narator yang tidak bergantung dari catatan besar yang sama.

Menanggulangi Kontradiksi-kontradiksi

Dalam Matius 8:5-13 dikatakan bahwa perwira datang sendiri kepada Yesus untuk meminta-Nya menyembuhkan budaknya, tetapi Lukas 7:1-10 berkata bahwa perwira tersebut mengirim tua-tua Yahudi untuk melakukannya. Nah, itu suatu kontradiksi bukan?

Tidak.
Coba pikirkan seperti ini: dunia kita sekarang ini, kita dapat mendengar suatu laporan berita yang berkata, 'Hari ini presiden mengumumkan bahwa...', padahal sebenarnya pidato ini ditulis oleh seorang penulis pidato dan disampaikan oleh sekretaris pers. Meskipun demikian tidak seorangpun menuduh bahwa laporan berita itu melakukan suatu kekeliruan.

Dengan cara yang serupa, di dunia kuno sangat dapat dimengerti dan diterima bahwa tindakan-tindakan seringkali dihubungkan dengan seseorang padahal yang melakukan sebenarnya adalah bawahan atau utusan mereka, dalam kasus ini melalui tua-tua bangsa Yahudi.

Jadi Matius dan Lukas dapat sama-sama benar pada saat yang bersamaan.

Markus 5:1-20 dan Lukas  8:26-39 mengatakan  bahwa Yesus mengusir setan ke dalam kawanan  babi di Gerasa, sementara Matius  8:28-34 berkata bahwa  itu terjadi di Gadara. Orang-orang memperhatikan itu dan berkata bahwa ini adalah dua tempat yang berbeda, ini adalah suatu kontradiksi yang nyata yang tidak dapat dirujukkan. Bagaimana dengan hal ini?

Gerasa adalah sebuah kota, Gadara adalah sebuah propinsi. Gerasa terdapat di propinsi Gadara. Reruntuhan sebuah kota yang digali tepat di lokasi tersebut mengacu kepada kota Gerasa, di propinsi Gadara.

Bagaimana tentang ketidaksesuaian silsilah Yesus di Matius 1:1-17 dan Lukas 3:23-38? Para skeptik sering menunjuk keduanya sebagai konflik yang tak mungkin terselesaikan.

Matius menelusuri silsilah Yesus melalui garis keturunan Yusuf, sedangkan Lukas menelusuri silsilah Yesus melalui garis keturunan Maria. Dan karena keduanya berasal dari keturunan Daud, sekali Anda menelusurinya jauh ke belakang Anda akan mendapati bahwa kedua garis keturunan itu bertemu.

Pendekatan menyeluruh dan terbaik untuk hal-hal yang kelihatan kontradiksi adalah mempelajari setiap isu secara sendiri-sendiri untuk melihat apakah ada suatu cara rasional untuk menyelesaikan konflik yang tajam antara keempat Injil. Ada saat-saat kita mungkin perlu menangguhkan penilaian dan cukup mengatakan bahwa karena kita telah memperoleh penjelasan yang masuk akal bagi mayoritas besar dari teks dan menetapkan bahwa mereka layak dipercaya, kita dapat menganggap beberapa detil lain dapat dipercaya meskipun tidak terdapat bukti mendukungnya.

5. Tes Prasangka yang Berat Sebelah

Penulis-penulis Injil adalah orang-orang yang mengasihi Yesus, mereka bukan pengamat-pengamat netral, mereka  adalah pengikut-pengikut-Nya yang penuh pengabdian. Tidakkah itu menimbulkan kemungkinan bahwa mereka akan mengubah hal-hal untuk membuat-Nya tampak baik?

Itu memang menciptakan potensial terjadinya hal tersebut. Namun di sisi lain, orang-orang dapat begitu menghargai dan menghormati seseorang, sehingga itu mendorong mereka mencatat kehidupannya dengan integritas yang besar. Itulah cara mereka untuk menunjukkan kasih mereka kepadanya. Dan itulah yang terjadi di sini.

Selain itu, murid-murid ini tidak mendapatkan apa-apa, kecuali: kecaman, pengucilan, dan kemartiran. Mereka tentu saja tidak memperoleh apa pun secara keuangan. Andaikata ada, ini akan memberikan tekanan untuk diam, untuk menyangkal Yesus, untuk mengecilkan Dia, bahkan untuk melupakan bahwa mereka pernah bertemu Dia. Namun karena integritas mereka, mereka menyatakan apa yang mereka lihat, bahkan walaupun itu berarti mereka akan mengalami penderitaan dan  kematian.

6. Tes Penyembunyian

Apakah para penulis Injil memasukkan material yang mungkin memalukan - yang membuat mereka merasa tidak nyaman -  yang mungkin sukar dijelaskan, atau mereka menyembunyikannya untuk membuat diri mereka sendiri kelihatan baik?

Mereka menuliskan hal-hal yang sepertinya dapat mempermalukan Yesus, yang membuat penulis Injil tidak nyaman, dan sukar dijelaskan.

Misal Markus 6:5 berkata bahwa Yesus hanya dapat melakukan sedikit mujizat di Nazaret karena orang-orang di sana hanya memiliki sedikit iman, yang tampaknya membatasi kuasa Yesus.
 
Dalam Markus 13:32, Yesus berkata bahwa Ia tidak mengetahui hari atau jam kedatangan-Nya kembali, yang tampaknya membatasi kemahatahuan-Nya.

Tetapi pada akhirnya teologi tidak memiliki masalah dengan pernyataan-pernyataan ini, karena Paulus sendiri dalam Filipi 2:5-8 berbicara tentang Tuhan dalam Kristus yang secara sukarela dan sadar membatasi sendiri penggunaan atribut-atribut keilahian-Nya.

Jika saya merasa bebas untuk bermain cepat dan longgar  untuk menuliskan Injil, saya akan jauh lebih nyaman untuk meninggalkan material-material itu, dan demikian saya tidak akan harus melalui suatu percekcokan  untuk menjelaskannya.

Contoh lain adalah pembaptisan Yesus. Anda dapat menjelaskan mengapa Yesus, yang tanpa dosa, membiarkan diri-Nya dibaptis? Di atas salib, Yesus berseru, 'Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?'
Akan merupakan kepentingan pribadi para penulis kalau itu dihilangkan karena menimbulkan terlalu banyak pertanyaan.

Terdapat banyak material yang memalukan tentang para murid.
Perspektif Markus dari Petrus cukup konsisten tidak enak didengar. Dan ia adalah Si Biangkeladi! Murid-murid berulang-kali salah memahami Yesus. Yakobus dan Yohanes menginginkan tempat di sebelah kanan dan kiri Yesus, dan sebagai gantinya Ia harus memberikan ajaran-ajaran keras kepada mereka mengenai kepemimpinan yang melayani. Mereka kerapkali kelihatan seperti gerombolan orang yang melayani diri sendiri, mencari kepentingan diri sendiri dan bebal.

Dengan demikian jika mereka merasa tidak bebas untuk meninggalkan hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman, hal-hal yang memalukan mereka, hal-hal yang membuat  sesuatu sulit dijelaskan, jelaslah bahwa mereka tidak mungkin  memalsukan material dengan  memberikan tambahan hal-hal yang dikarang-karang.

7. Tes Koborasi (Bukti yang Menguatkan)

Ketika Injil-injil menyebutkan orang-orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa, apakah mereka memeriksa kebenarannya dalam kasus-kasus di mana mereka dapat diverifikasi secara independen?

Ya, mereka melakukannya, dan semakin orang-orang mengeksplorasi ini, detil-detil yang ada semakin dikonfirmasi. Dalam ratusan tahun terakhir, arkeologi telah berulangkali menggali penemuan-penemuan yang menegaskan rujukan-rujukan spesifik dalam keempat Injil, khususnya Injil Yohanes, Injil yang menurut dugaan begitu dicurigai.

Memang masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan, dan kadangkala arkeologi menciptakan masalah-masalah baru, namun itu adalah suatu minoritas kecil dibandingkan dengan jumlah contoh koroborasi (bukti yang menguatkan).

Sebagai tambahan, kita dapat belajar melalui sumber-sumber non-Kristen, banyak fakta mengenai Yesus yang menguatkan ajaran-ajaran dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan-Nya.

8. Tes Saksi yang Menentang

Adakah orang-orang lain yang akan menentang atau mengoreksi Injil-injil jika keempatnya telah diubah atau salah? Dengan kata lain, apakah kita melihat contoh karya-karya dari jaman Yesus yang menyatakan bahwa laporan-laporan Injil sama sekali salah?

Banyak orang mempunyai alasan-alasan untuk menghendaki agar gerakan Kekristenan ini didiskreditkan dan mereka akan melakukan demikian jika saja mereka dapat mengisahkan sejarah dengan lebih baik.

Namun lihatlah apa yang dikatakan lawan-lawan-Nya. Dalam tulisan-tulisan Yahudi selanjutnya Yesus disebut sebagai tukang sihir yang menyesatkan Israel, yang mengakui bahwa Ia benar-benar melakukan perbuatan-perbuatan ajaib yang menakjubkan. Tulisan-tulisan ini secara implisit mengakui bahwa apa yang ditulis keempat Injil, bahwa Yesus mengadakan mujizat-mujizat adalah benar.

Dapatkah gerakan Kristen berakar di sana di Yerusalem, tepat di area di mana Yesus telah melakukan sebagian pelayanan-Nya, disalibkan, dikuburkan, dan dibangkitkan, jika orang-orang yang mengenal-Nya sadar bahwa murid-murid membesar-besarkan atau mengubah hal-hal yang Ia lakukan?
 
Tentu tidak. Kita memiliki suatu gambaran dari apa yang pada mulanya merupakan suatu gerakan yang sangat mudah diserang dan rapuh yang dihadapkan pada penganiayaan. Jika kritik-kritik dapat  menyerangnya dengan dasar bahwa itu penuh dengan kesalahan dan perubahan, mereka akan melakukannya. Namun, itulah tepatnya apa yang tidak kita lihat.

Kesimpulan

Setelah kita melakukan tes terhadap bukti saksi mata Injil, kita menyimpulkan:

Para penulis mencatat apa yang sebenarnya terjadi

Murid-murid Yesus mampu menghafal di luar kepala lebih banyak daripada apa yang tercatat dalam keempat Injil dan kemudian meneruskannya secara akurat.

Penulis-penulis Injil adalah orang-orang dengan integritas besar. Mereka bersedia hidup menurut kepercayaan-kepercayaan mereka, bahkan sampai titik ketika sepuluh dari sebelas murid yang masih tinggal dibunuh secara  mengerikan, yang menunjukkan karakter yang sangat kuat.

Terdapat cukup variasi antara keempat Injil menunjukkan bahwa tidak mungkin terjadi suatu persesuaian bersama terlebih dahulu di antara mereka.

Pendekatan menyeluruh dan terbaik untuk hal-hal yang kelihatan kontradiksi adalah mempelajari setiap isu secara sendiri-sendiri untuk melihat apakah ada suatu cara rasional untuk menyelesaikan konflik yang tajam antara keempat Injil.
Murid-murid ini tidak mendapatkan apa-apa kecuali kecaman, pengucilan, dan kemartiran. Namun karena integritas mereka, mereka menyatakan apa yang mereka lihat, bahkan walaupun itu berarti mereka akan mengalami penderitaan dan  kematian.

Merasa tidak bebas untuk meninggalkan hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman, hal-hal yang memalukan mereka, hal-hal yang membuat sesuatu sulit dijelaskan, jelaslah bahwa mereka tidak mungkin memalsukan material dengan  memberikan tambahan  hal-hal yang dikarang-karang.

Dalam ratusan tahun terakhir, arkeologi telah berulangkali menggali penemuan-penemuan yang menegaskan rujukan-rujukan spesifik dalam keempat Injil.

Kita memiliki suatu gambaran dari apa yang pada mulanya merupakan suatu gerakan yang sangat mudah diserang dan rapuh yang dihadapkan pada penganiayaan. Jika kritik-kritik dapat  menyerangnya dengan dasar bahwa itu penuh dengan kesalahan dan perubahan, mereka akan melakukannya. Namun, itulah tepatnya apa yang tidak kita lihat.

Sumber:
Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press,
PO BOX 238, Batam Center, 29432. Fax 021-7470-9281


Buku Tamu
Beritahu Teman
 
PENGAJARAN

Apokripa

Pewahyuan Perjanjian Baru

Pewahyuan Dan Otoritas Perjanjian Lama

Keilahian Yesus Kristus

Ringkasan Seminar Refleksi Film The Passion Of The Christ

Keotentikan Naskah Perjanjian Baru

Bukti Sejarah Kebangkitan Kristus

Arti Penting Kebangkitan Kristus

Apakah Kubur Kosong Yesus Itu Historis?

Apakah Yesus Benar-benar Mati?

Apakah Yesus Memiliki Sifat-sifat Tuhan?

Apakah Yesus Yakin Bahwa Ia Adalah Anak Allah

Bukti Ilmiah Injil

Bukti Yang Menguatkan Injil

Menguji Bukti Saksi Mata Injil

Bukti Saksi Mata Injil

Alkitab - Isinya Yang Mengherankan

Inspirasi Dan Kanonisasi Alkitab

ROHANI UMUM
KESAKSIAN
MUSIK LAGU
SHARING BUKU
PI
SEKOLAH MINGGU
PERSEKUTUAN
 
NEWSLETTER

Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda:

 
SEARCH

 Copyright © 2006 pemudakristen.com. All Rights Reserved. Development by Proweb Indonesia