Home Tentang Kita Artikel Hot News Link
Sabtu, 23 Juni 2018  
 Sumber informasi Aktifis Pemuda Kristen
 
print
lihat komentar
kirim komentar
kirim ke teman
 
Abide With Me


Henry Lyte (1793 - 1847)

Abide with me, fast falls the eventide,
The darkness deepens -- Lord, with me abide;
When other helpers fail; and comforts flee,
Help of the helpless, O abide with me.

Swift to its close ebbs out life's little day;
Earth's joys grow dim, its glories pass away;
Change and decay in all around I see;
O thou who changest not, abide with me.


Petang. Mungkin saat pergantian hari ini, adalah saat yang sangat menakutkan bagi setiap kita. Pada saat siang, kita dapat dengan mudah mengetahui musuh yang sedang mengintai kita. Pada malam hari, siapa yang tahu ada apa yang mungkin menyakiti kita dari dalam kegelapan?

Sepanjang hidupnya, Henry Francis Lyte merasa bahwa suatu hari dia akan menuliskan sesuatu yang bersifat kekal. Tetapi ketika inspirasi itu datang, dia hampir saja melewatkannya. 'Abide with Me' mungkin merupakan lagu yang bisa saja bagi kita, tetapi jikalau kita tahu alasan dibalik penulisan syair doa ini, maka lagu ini akan memberikan suatu arti yang baru dan dalam bagi kita. 

Lagu ini ditulis ketika pengarangnya, seorang hamba Tuhan berusia 54 tahun, menyampaikan khotbah terakhirnya, karena dipaksa untuk beristirahat awal, akibat penyakit TBC yang dideritanya. Akibat kelemahan tubuh yang dideritanya ini, dia hampir saja memutuskan untuk menunda penyelesaian terakhir untuk syair lagunya.
Diserang dengan TBC, dokter meminta dia untuk memikirkan kematian dirinya. Satu-satunya jalan untuk memperpanjang kemungkinan hidupnya adalah dengan pindah dari daerah lembab di pesisir pantai Inggris, ke daerah dataran yang lebih kering. Maka akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke Roma. 

Lyte telah menggembalakan gereja Anglikan di Brixham, Inggris, selama 24 tahun. Pada tanggal 04 September 1847, dia menyampaikan khotbahnya yang terakhir diambil dari Lukas 24:29, ayat itu berbicara tentang Yesus yang sudah bangkit bertemu dengan 2 orang muridnya dalam perjalanan ke Emaus; permintaan mereka saat itu - "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." ("Abide with us: for it is toward evening, and the day is far spent (KJV)") Lalu masuklah Dia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Dia makan bersama dengan mereka, menyatakan diri-Nya kepada mereka. Singkat kata, Dia tinggal bersama mereka.

Ayat ini dengan dalam tertanam dalam benak Lyte. Menjelang sore, dia berjalan melintasi kebunnya menuju ke pinggiran pantai yang telah sangat dikenalnya, di sinilah tempat dimana puisi doa ini terbentuk: sebuah permohonan kepada Kristus untuk tinggal dekat melalui malam gelap dan sulit yang menjelang. Menjelang petang, Lyte pergi menuju ruangannya dan menuliskan 8 stansa dan sebuah melodi, yang sekarang hilang.
Lyte tidak pernah sampai ke Italia. Dia meninggal dalam perjalanan di Nice, Francis, pada bulan November. Tangannya mengarah ke langit seakan berusaha menggapai sesuatu, dia berbisik, "Damai, Sukacita," dan menghembuskan nafasnya yang terakhir - perpindahan terakhir ini nampaknya semudah yang diharapkannya - diiringi 'surga pagi' yang merekah.

Bagi seorang anak, lagu ini mungkin akan disiulkan dalam kegelapan untuk mengusir rasa takut. Untuk seseorang yang mendekati kematian ini adalah doa permohonan kepada Tuhan untuk tinggal tetap -- menyatakan ketidakberubahan diri-Nya, bahkan di tengah perubahan total yang ditandai penurunan fisik.

Untuk sebagian besar kita, hidup di antara pagi dan malamnya kehidupan, lagu ini mengundang Tuhan untuk berjalan bersama kita melalui begitu banyak transisi yang mengingatkan kita untuk bertanya apa yang menunggu di hadapan kita - di luar perubahan itu sendiri. Kesakitan kita dapat ditenangkan melalui doa lain yang disampaikan Kristus sendiri, ketika Dia berhadapan dengan perpisahan duniawi: "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. (Yoh. 14:16). Di sini Yesus meminta Bapa untuk mengirimkan Roh - untuk tinggal bersama kita murid-murid-Nya - untuk selama-lamanya. Dan itu berarti melalui setiap transisi, Dia berada dan tinggal di sana.

Tuhan, Saya membutuhkan kehadiran-Mu, dalam setiap jam setiap hari. Saya berdoa agar Engkau mau tinggal bersama saya, ketika saya berjalan melalui begitu banyak transisi dalam kehidupan saya - beberapa datangnya seperti petang dan beberapa yang datang bagai kejutan dan mencengangkan diriku. Dalam kehidupan dan ketika saya berhadapan dengan kematian, Tuhan, tinggallah bersamaku.



Buku Tamu
Beritahu Teman
 
PENGAJARAN
ROHANI UMUM
KESAKSIAN
MUSIK LAGU

Amazing Love, How Can It Be

Christ The Lord Is Risen Today

When I Survey The Wondrous Cross

Go Tell It On The Mountain

Angels, From The Realms Of Glory

Isaac Watts

Frances (fanny) Jane Crosby

All Hail The Power Of Jesus’ Name

The Old Rugged Cross

Christianity And Music

Amazing Grace

Great Is Thy Faithfulness

Onward, Christian Soldiers

I Am Thine, O Lord (Draw Me Nearer)

Abide With Me

Hymn Trivia

Away In A Manger

What Child Is This

O Come, O Come, Emmanuel

It Came Upon The Midnight Clear

O Holy Night

A Mighty Fortress Is Our God

Near To The Heart Of God

SHARING BUKU
PI
SEKOLAH MINGGU
PERSEKUTUAN
 
NEWSLETTER

Dapatkan berita terbaru dari kami. Masukkan alamat email anda:

 
SEARCH

 Copyright © 2006 pemudakristen.com. All Rights Reserved. Development by Proweb Indonesia